Rabu, 23 Oktober 2013
Selasa, 22 Oktober 2013
KESAKSIAN TSUNAMI 2004
RAHASIA
BESAR DI BALIK TSUNAMI ACEH 2004
Salam
sejahtera dalam kasih yesus
Rahasia
Besar di Balik Tsunami Aceh 2004
Bencana
Raya Tsunami Aceh 2004 sudah lama berlalu, tapi tak seorangpun yang akan pernah
melupakannya. Prahara itu setara dasyatnya dengan Bom Hiroshima dalam catatan
sejarah bumi ini.
Sampai
kapanpun orang tidak akan pernah lupa pada Tsunami Aceh, dan seluruh umat
manusia, keturunan demi keturunan, akan terus mengenangnya.
Orang
akan tetap mengingatnya sebagai bencana alam terbesar sepanjang zaman modern.
Tak
seorangpun yang akan lupa betapa stasiun-stasiun TV menayangkan video-video
mengerikan: mayat-mayat manusia bergeletakan tak berarti di jalan-jalan, di
trotoar, di lapangan, di selokan-selokan, tergantung di tiang listrik, di atas
pohon dan tempat-tempat lain.
Para
reporter melaporkan langsung dengan berdiri di sekitar tumpukan mayat
berserakan, bagai tumpukan ikan di pasar ikan.
Tapi
adakah yang tahu rahasia besar di balik peristiwa dasyat itu? Sekaranglah
saatnya rahasia itu diungkapkan secara luas, agar menjadi peringatan besar bagi
dunia, sama seperti Bahtera Nuh menjadi peringatan akan bengisnya murka Allah
atas manusia di jaman itu.
Berikut
ini saya salin dari catatan harian saya dari tahun 2005 lalu.
“Tadi
pagi saya mendengar cerita yang menggetarkan dari tante saya. Beliau adik
perempuan ibu saya, yang baru tiba dari Pekan Baru-Riau beberapa hari lalu ke
kota ini, untuk meninjau anaknya yang sekolah disini. Cerita itu terlalu
mengguncangkan sampai saya merinding mendengarnya dan memutuskan untuk
menulisnya disini. Beliau bercerita tentang sebuah peristiwa yang luput dari
pers, yang menjadi awal dari bencana besar Tsunami Aceh 2004 lalu.
Tanggal
24 Desember 2004, sebuah jemaat gereja berjumlah kira-kira 400 jiwa di
Meulaboh, Aceh Darussalam, sedang kumpul-kumpul di gedung gereja untuk
persiapan Natal, tiba-tiba mereka didatangi segerombol besar massa berwajah
beringas.
Mereka
adalah warga kota, tetua-tetua kota, aparatur pemerintah serta polisi syariat.
Massa ini dengan marah mengultimatum orang-orang kristen itu untuk tidak
merayakan Natal.
Tetapi
pendeta dan jemaat gereja itu mencoba membela diri, kurang lebih berkata:
“Mengapa Pak? Kami kan hanya merayakan hari besar agama kami.
Kami
tidak berbuat rusuh atau kejahatan kok. Acara besok untuk memuji dan menyembah
Tuhan kok, Pak. Yakinlah, kami tidak akan mengganggu siapapun.”
Tetapi
massa itu tidak menggubris dan kurang lebih berkata: “Sekali tidak boleh, ya
tidak boleh! Ini negeri Islam! Kalian orang-orang kafir tidak boleh mengotori kota
kami ini! Dengar, kalau kami membunuh kalian, tidak satupun yang akan membela
kalian, kalian tahu itu!?”
Tetapi
orang-orang kristen itu tetap berusaha membujuk-bujuk massa itu. Lalu massa
yang ganas itu memutuskan begini: “Kalian tidak boleh merayakan Natal di dalam
kota.
Kalau
kalian merayakannya disini, kalian akan tahu sendiri akibatnya! Tapi kalau
kalian tetap mau merayakan Natal, kalian kami ijinkan merayakannya di hutan di
gunung sana!!”
Setelah
mengultimatum demikian, massa itupun pergi. Lalu pendeta dan jemaat gereja itu
berunding, menimbang-nimbang apakah sebaiknya membatalkan Natal saja, ataukah
pergi ke hutan dan bernatal disana. Akhirnya mereka memilih pilihan kedua.
Lalu
berangkatlah mereka ke hutan, di daerah pegunungan.
Di
suatu tempat, mereka mulia membersihkan rumput dan belukar, mengikatkan
terpal-terpal plastik ke pohon-pohon sebagai atap peneduh, lalu mulai menggelar
tikar.
Besoknya,
25 Desember 2004, jemaat gereja itu berbondong-bondong ke hutan untuk merayakan
Natal. Perayaan Natal yang sungguh memilukan sekali.
Mereka
menangis meraung-raung kepada Tuhan, meminta pembelaanNya.
Sebagian
besar mereka memutuskan menginap di hutan malam itu. Lalu pagi-pagi buta
sekali, ketika hari masih gelap, istri si pendeta terbangun dari tidur.
Ia
bermimpi aneh, membangunkan suaminya dan yang lain. Dalam mimpinya itu Yesus
datang kepadanya, menghiburnya dengan berkata: “Kuatkanlah hatimu, hai anakKu.
Jangan engkau menangis lagi. Bukan kalian yang diusir bangsa itu, tetapi Aku!
Setiap bangsa yang mengusir Aku dan namaKu dari negeri mereka, tidak akan luput
dari murkaKu yang menyala-nyala.
Bangunlah
dan pergilah ke kota, bawa semua saudaramu yang tertinggal disana ke tempat ini
sekarang juga, karena Aku akan memukul negeri ini dengan tanganKu!”
Lalu
mereka membahas sejenak mimpi itu. Sebagian orang menganggap itu mimpi biasa,
menenangkan si ibu pendeta dengan berkata kira-kira begini: “sudahlah Ibu,
jangan bersedih lagi. Tentulah mimpi itu muncul karena ibu terlalu sedih”.
Tetapi
sebagian lagi percaya atau agak percaya bahwa mimpi itu memang betul-betul
pesan Tuhan. Akhirnya mereka memutuskan mengerjakan pesan seperti dalam mimpi
itu.
Beberapa
orang ditugaskan ke kota pagi buta itu juga untuk memanggil keluarga-keluarga
jemaat yang tak ikut bernatal ke hutan.
Ketika
pagi hari, sekitar pukul 7 s/d 8 pagi mereka semua telah berada kembali di
pegunungan, mereka dikejutkan goncangan gempa yang dasyat sekali. Tak lama
kemudian, peristiwa Tsunami Besar itupun terjadi.

Begitulah intisari
cerita tante saya itu. Saya termangu-mangu, teringat pada peristiwa kebinasaan
kota Sodom dan Gomora dimana Tuhan juga menyuruh semua orang percaya (keluarga
Lot) keluar dari kota itu sebelum bencana itu terjadi.
Lalu
saya tanya beliau dari mana tahu cerita itu. Tante saya mengatakan bahwa
pendeta gereja yang selamat itu telah pergi kemana-mana, mempersaksikan kisah
luar biasa itu ke gereja-gereja di seluruh Indonesia, termasuk ke gereja dimana
tante saya beribadah, di Pekan Baru.
Saya
tidak tahu kebenaran cerita tante saya itu, sebab dialah orang satu-satunya
yang pernah bercerita begitu pada saya.
Itulah
sebabnya saya tulis dulu di buku harian ini supaya saya tidak lupa dan supaya
bila kelak saya telah mendengar cerita yang sama dari orang lain, barulah saya
akan percaya dan akan saya ceritakan kepada sebanyak-banyaknya orang”.
Saudara
dalam Yesus,
Beberapa
waktu lalu, saya teringat pada catatan itu lalu terpikir untuk surfing di
internet ini, apakah ada orang lain yang mendengar kesaksian yang sama. jika
ada, berarti tante saya itu tidak membual pada saya, dan berarti peristiwa itu
benar terjadi.
Lalu
apa yang saya temukan? Saya BENAR-BENAR menemukannya setelah dengan susah payah
membuka-buka banyak situs. Salah satunya saya temukan di pedalaman salib.net.
Itulah
sebabnya catatan harian itu saya publikasikan di blog ini untuk saudara
publikasikan lebih luas lagi ke seluruh dunia. Biarlah seluruh dunia tahu bahwa
Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Ia sungguh-sungguh
HIDUP!
Haleluyah!!
Saya mengundang saudara untuk meninggalkan komentar, dan jika anda
pernah mendengar kesaksian yang sama, mari saling menguatkan kesaksian ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
